Ibu, maafkan aku
Yang tuli atas nasihatmu
@waismunix
“apa yang ibuku ucapkan,
Selalu baik akhirnya, dan aku sangat bodoh
Tidak mengindahkannya
Kini aku menyesal bu…………”
Naluri seorang ibu memang sangat luar biasa ajaibnya,
itulah alasan kenapa aku selalu bangga dengan seorang wanita khususnya ibuku
tercinta.
Pagi itu aku
bangun kesiangan, jam menunjukan pukul 05.45 “aaaaaaaaah kenapa ibu tidak
membangunkanku bu” gemercik kecewa dalam hati. Biasanya ibu selalu siap sedia
membangunkanku berulang kali dari mulai subuh hingga akhirnya aku bisa bangun
dari tidurku.
Aku langsung
bergegas ke kamar mandi, aku mandi dengan sangat buru-buru berharap detik jam
dinding lebih santai berputar. Selepas
dari kamar mandi aku langsung sholat subuh walaupun saat itu sudah tepat jam 06.00,
tanpa terbesit dalam pikiran “kemana ibu? Kok dari tadi aku belum melihatnya”.
Karena masih merasa kesal ibu tidak membangunkanku, aku lalu mencari ibu untuk
menyampaikan rasa kecewa, tapi ibu tidak ada di dapur, “ibuuuu?” aku
memanggilnya dengan nada cukup keras.
“Uhuuuuuuuuuuk”
ada suara batuk dari kamar, rupanya ibu ada dikamar sedang terbaring. “aah ibu,
kenapa gak bangunin sih ? eku telat nih”. “ibu sakit fal, ibu pusing”, “ah ibu,
tapi bisa kan bangun sebentar untuk membangunkanku, aaaah sudahlah aku pasti telat
ini bu”, aku langsung menutup pintu kamar ibu dengan keras. Tanpa sarapan
terlebih dahulu aku langsung pergi berangkat sekolah.
Saat aku duduk
di kursi depan rumah sambil memakai sepatu, ibu datang menghampiriku diluar. “maafkan
ibu fal, ibu beneran pusing, kamu udah sarapan nak?” Tanya ibu dengan wajah
pucatnya, “kan ibu gak masak bu, jadi apa yang bisa aku makan bu” aku menjawab
sambil pergi dari kursi tempat aku duduk.
“hati-hati
naufal, jangan ngebut dijalan, langsung pulang kerumah jangan main kemana-mana
dulu ya nak, ingat pesan ibu fal”. Aku sama sekali tidak mengindahkan apa yang
ibu ucapkan saat itu. Aku menyalakan motor dan pergi dari rumah menuju sekolah
dengan kecepatan cukup tinggi. “aaaaah sial jalanan masih sangat macet padahal
sudah jam 07.15” ucapku dalam hati.
Tak lama kemudian aku sampai di
sekolah, pintu gerbang sudah digembok, aaaah padahal baru 15 menit lewat dari
jam masuk semestinya. “pak tolong buka pintunya pak” pinta aku pada pak wahyu satpam
sekolah. “kenapa kamu telat? Siapa nama kamu? Oh naufal al-fattah” pak wahyu
rupanya membaca nama yang tertera di baju seragamku saat itu. “jalanan macet
pak, terus tadi ban motor saya bocor pak” terpaksa aku sedikit berbohong seperti
itu berharap pak satpam ini percaya dengan alibi palsuku. “ya sudah, lain kali
jangan terlambat lagi, kalau terlambat lagi, sanksi akan saya berikan”
“aaaaaah
syukurlah pak wahyu bisa aku bohongi”ucapku dalam hati, begitu sampai di depan
pintu kelas, saat aku mencoba mengetuk pintu dan masuk kedalamnya, aku langsung
disambut dengan wajah garangnya guru matematika saat itu dengan kata-katanya
yang cukup sakit didengar.
“jam berapa
ini naufal? Dari mana kamu bisa telat sampai setengah jam kayak gini? Kamu
pikir ini sekolah punya kamu? Kamu bisa seenaknya masuk jam segini”
“maaf bu
tadi jalanan macet sekali, terus ban saya bocor bu”
“alaaah itu
alasan yang sangat kampungan naufal”
“maaf bu tapi
beneran sumpah bu!!!” terpaksa aku berbohong lagi pagi ini.
“terserah
kamu naufal, tapi untuk pelajaran ibu hari ini, saya tidak mengijinkan kamu
ikut dalam pelajaran saya, silahkan kamu keluar dari kelas ini”
“aaaaaaah
sial banget aku hari ini, ini semua gara-gara ibu, ngapain sih pake sakit
segala” kesalku dalam hati sambil berjalan ke kantin sekolah.
Setelah jam
pelajaran matematika selesai, akhirnya aku masuk kedalam kelas, “hahaha, kasian
sekali kamu fal, makannya jangan macem-macem sama bu lidia fal” aku dengar
ucapan-ucapan dari teman, entah itu sindiran atau ejekan aku tidak tahu pasti.
Aaaah leganya akhirnya aku bisa masuk kelas hari ini.
Akhirnya jam terakhir selesai, aku enggan kembali ke rumah karena masih ada
kesal akan masalah tadi pagi. Aku berpikir, kemana aku sekarang ya. Dengan tanpa
pikir panjang aku mengendarai motorku hingga sampai ke tempat nongkrong biasanya.
Handphone aku matikan berharap ibu tidak menelpon ku, mengganggu suasana santai
di tempat tongkrongan ini.
Hingga jam 21.00 aku masih belum
pulang ke rumah, aku main kesana kemari hingga akhirnya aku kebut-kebutan
dijalan raya bermain balapan liar dengan orang-orang yang ada disana dan aku
sama sekali tidak kenal dengan mereka. Ini pertama kalinya aku bermain senakal
ini.
Dan
tiba-tiba ada mobil patroli dari polisi merazia kami yang sedang balapan liar
ini. Aaaaah sial saat itu aku kena tangkap oleh polisi, hingga akhirnya hanya
aku yang tertangkap dan kini aku ada di kantor polisi.
Aku disuruh
menelpon orangtua, saat itu aku sangat menyesal tidak langsung pulang kerumah
saja. Pak polisi terus memarahiku saat itu
apalagi aku masih mengenakan pakaian seragam sekolah.
Aku baru
ingat bahwa dari siang handphone sudah dimatikan, saat aku menghidupkan kembali
aku terhentak ketika melihat ada 18 panggilan masuk dari adik saya. Aku
langsung menelphone balik Edwin saya itu.
“ada apa di
lu nelpone gue nyampe 18 kali….. hallo ….. halloooo win?” tanpa jawaban pasti
aku tidak mendengar suara apa-apa saat itu. “kemana aja kamu kak? cepat sini,
ibu ada di rumah kak sakit kak, kritis” itulah yang adik saya ucapkan saat itu.
Pikiranku melayang tiba-tiba teringat apa yang aku lakukan tadi pagi pada ibu.
“kenapa kamu
? apa orang tuamu akan kesini?” pak polisi bertanya dengan keras kepadaku sambil
menendang badanku yang sedang jongkok dihalaman kantor polisi saat itu. Aku langsung
memegang kaki polisi itu berlutut memohon agar aku di ijinkan pulang tanpa
berurusan ini itu dan pergi ke rumah sakit secepatnya. Setelah panjang lebar
saya menjelaskan akhirnya polisi itu mengijinkanku pulang dan pergi kerumah
sakit.
Betapa
menyesalnya diri ini, membayangkan kondisi ibu yang sedang berada di rumah
sakit. Ketika aku sampai di depan pintu kamar tempat ibu dirawat, tiba-tiba
kakaknya ibu yaitu om Johan, dengan kerasnya om Johan menampar pipiku,
memarahi, mencaci maki sampai akhirnya berkata “kamu ini anak pertama, bapak
kamu sudah meninggal, kamu adalah harapan keluarga satu-satunya fal, lihat ibu
kamu sekarang” sambil menunjuk ibu yang terbaring di kasur rumah sakit.
DEG!!!Astaga,
ibu ternyata sudah tidak sadarkan diri, aku menangis sambil tak henti-hentinya
meminta maaf pada ibu, berharap ibu bangun dan bisa memaafkanku.
Tiba-tiba sungguh mukjijat luar
biasa, ibu terbangun dan kembali sadar, dengan wajah sangat pucat, dengan tubuh
yang sangat lemah, ibu berkata “maafkan ibu fal, gara-gara ibu tadi tidak
membangunkanmu, kamu jadi kesiangan sampai-sampai tidak sarapan, maafin ibu fal”
Ibu memegang tanganku erat sambil
meneteskan air mata. “jadilah anak kebanggaan orang tua yaaa, naufal, edwin,
anak ibu, maafkan bapak maafkan ibu yang meninggalkan kalian berdua di dunia
ini”.
Itulah kata
terkahir yang di ucapkan ibu, ibu kembali kritis dan belum sempat aku menjawab
dan meminta maaf, ibu sudah menutup mata untuk selama-lamanya.
Penyesalan
dalam hidup yang tidak bisa aku lupakan, bahkan aku sendiri tidak bisa
memaafkan kebodohan ini, selamanya.
Maafkan
anakmu ini bu…. semoga ibu dan bapak ada di surga bersama, tunggu naufal dan
sendi disana ya bu…..
“robbighfir lii waaliwaa lidayya warhamhumaa
kamaa robbayaanii shaghiiraa”
“ya tuhanku,
ampunilah aku dan kedua orangtuaku, dan sayangilah kedua orangtuaku sebagaimana
mereka telah menyayangiku sewaktu kecil”
“berikan aku
kesempatan untuk berbakti kepada orangtuaku yang kini telah tidak bersama kami
lagi, yang mungkin telah berada di surgamu ya rabb, panjangkan umur saya dan
adik saya ya tuhan, agar kami punya banyak waktu untuk berbakti kepada mereka”


0 komentar:
Posting Komentar