Rabu, 01 Oktober 2014

Ibu, maafkan aku Yang tuli atas nasihatmu #fiksi1



Ibu, maafkan aku
Yang tuli atas nasihatmu
@waismunix

“apa yang ibuku ucapkan,
Selalu baik akhirnya, dan aku sangat bodoh
Tidak mengindahkannya
Kini aku menyesal bu…………”
 Naluri seorang ibu memang sangat luar biasa ajaibnya, itulah alasan kenapa aku selalu bangga dengan seorang wanita khususnya ibuku tercinta.

            Pagi itu aku bangun kesiangan, jam menunjukan pukul 05.45 “aaaaaaaaah kenapa ibu tidak membangunkanku bu” gemercik kecewa dalam hati. Biasanya ibu selalu siap sedia membangunkanku berulang kali dari mulai subuh hingga akhirnya aku bisa bangun dari tidurku.
            Aku langsung bergegas ke kamar mandi, aku mandi dengan sangat buru-buru berharap detik jam dinding lebih santai berputar.  Selepas dari kamar mandi aku langsung sholat subuh walaupun saat itu sudah tepat jam 06.00, tanpa terbesit dalam pikiran “kemana ibu? Kok dari tadi aku belum melihatnya”. Karena masih merasa kesal ibu tidak membangunkanku, aku lalu mencari ibu untuk menyampaikan rasa kecewa, tapi ibu tidak ada di dapur, “ibuuuu?” aku memanggilnya dengan nada cukup keras.
            “Uhuuuuuuuuuuk” ada suara batuk dari kamar, rupanya ibu ada dikamar sedang terbaring. “aah ibu, kenapa gak bangunin sih ? eku telat nih”. “ibu sakit fal, ibu pusing”, “ah ibu, tapi bisa kan bangun sebentar untuk membangunkanku, aaaah sudahlah aku pasti telat ini bu”, aku langsung menutup pintu kamar ibu dengan keras. Tanpa sarapan terlebih dahulu aku langsung pergi berangkat sekolah.
            Saat aku duduk di kursi depan rumah sambil memakai sepatu, ibu datang menghampiriku diluar. “maafkan ibu fal, ibu beneran pusing, kamu udah sarapan nak?” Tanya ibu dengan wajah pucatnya, “kan ibu gak masak bu, jadi apa yang bisa aku makan bu” aku menjawab sambil pergi dari kursi tempat aku duduk.
            “hati-hati naufal, jangan ngebut dijalan, langsung pulang kerumah jangan main kemana-mana dulu ya nak, ingat pesan ibu fal”. Aku sama sekali tidak mengindahkan apa yang ibu ucapkan saat itu. Aku menyalakan motor dan pergi dari rumah menuju sekolah dengan kecepatan cukup tinggi. “aaaaah sial jalanan masih sangat macet padahal sudah jam 07.15” ucapku dalam hati.
Tak lama kemudian aku sampai di sekolah, pintu gerbang sudah digembok, aaaah padahal baru 15 menit lewat dari jam masuk semestinya. “pak tolong buka pintunya pak” pinta aku pada pak wahyu satpam sekolah. “kenapa kamu telat? Siapa nama kamu? Oh naufal al-fattah” pak wahyu rupanya membaca nama yang tertera di baju seragamku saat itu. “jalanan macet pak, terus tadi ban motor saya bocor pak” terpaksa aku sedikit berbohong seperti itu berharap pak satpam ini percaya dengan alibi palsuku. “ya sudah, lain kali jangan terlambat lagi, kalau terlambat lagi, sanksi akan saya berikan”
            “aaaaaah syukurlah pak wahyu bisa aku bohongi”ucapku dalam hati, begitu sampai di depan pintu kelas, saat aku mencoba mengetuk pintu dan masuk kedalamnya, aku langsung disambut dengan wajah garangnya guru matematika saat itu dengan kata-katanya yang cukup sakit didengar.
            “jam berapa ini naufal? Dari mana kamu bisa telat sampai setengah jam kayak gini? Kamu pikir ini sekolah punya kamu? Kamu bisa seenaknya masuk jam segini”
            “maaf bu tadi jalanan macet sekali, terus ban saya bocor bu”
            “alaaah itu alasan yang sangat kampungan naufal”
            “maaf bu tapi beneran sumpah bu!!!” terpaksa aku berbohong lagi pagi ini.
            “terserah kamu naufal, tapi untuk pelajaran ibu hari ini, saya tidak mengijinkan kamu ikut dalam pelajaran saya, silahkan kamu keluar dari kelas ini”
            “aaaaaaah sial banget aku hari ini, ini semua gara-gara ibu, ngapain sih pake sakit segala” kesalku dalam hati sambil berjalan ke kantin sekolah.
            Setelah jam pelajaran matematika selesai, akhirnya aku masuk kedalam kelas, “hahaha, kasian sekali kamu fal, makannya jangan macem-macem sama bu lidia fal” aku dengar ucapan-ucapan dari teman, entah itu sindiran atau ejekan aku tidak tahu pasti. Aaaah leganya akhirnya aku bisa masuk kelas hari ini.


Akhirnya jam terakhir selesai,  aku enggan kembali ke rumah karena masih ada kesal akan masalah tadi pagi. Aku berpikir, kemana aku sekarang ya. Dengan tanpa pikir panjang aku mengendarai motorku hingga sampai ke tempat nongkrong biasanya. Handphone aku matikan berharap ibu tidak menelpon ku, mengganggu suasana santai di tempat tongkrongan ini.
           
Hingga jam 21.00 aku masih belum pulang ke rumah, aku main kesana kemari hingga akhirnya aku kebut-kebutan dijalan raya bermain balapan liar dengan orang-orang yang ada disana dan aku sama sekali tidak kenal dengan mereka. Ini pertama kalinya aku bermain senakal ini.
            Dan tiba-tiba ada mobil patroli dari polisi merazia kami yang sedang balapan liar ini. Aaaaah sial saat itu aku kena tangkap oleh polisi, hingga akhirnya hanya aku yang tertangkap dan kini aku ada di kantor polisi.
            Aku disuruh menelpon orangtua, saat itu aku sangat menyesal tidak langsung pulang kerumah saja. Pak polisi terus memarahiku  saat itu apalagi aku masih mengenakan pakaian seragam sekolah.
            Aku baru ingat bahwa dari siang handphone sudah dimatikan, saat aku menghidupkan kembali aku terhentak ketika melihat ada 18 panggilan masuk dari adik saya. Aku langsung menelphone balik Edwin saya itu.
            “ada apa di lu nelpone gue nyampe 18 kali….. hallo ….. halloooo win?” tanpa jawaban pasti aku tidak mendengar suara apa-apa saat itu. “kemana aja kamu kak? cepat sini, ibu ada di rumah kak sakit kak, kritis” itulah yang adik saya ucapkan saat itu. Pikiranku melayang tiba-tiba teringat apa yang aku lakukan tadi pagi pada ibu.
            “kenapa kamu ? apa orang tuamu akan kesini?” pak polisi bertanya dengan keras kepadaku sambil menendang badanku yang sedang jongkok dihalaman kantor polisi saat itu. Aku langsung memegang kaki polisi itu berlutut memohon agar aku di ijinkan pulang tanpa berurusan ini itu dan pergi ke rumah sakit secepatnya. Setelah panjang lebar saya menjelaskan akhirnya polisi itu mengijinkanku pulang dan pergi kerumah sakit.
            Betapa menyesalnya diri ini, membayangkan kondisi ibu yang sedang berada di rumah sakit. Ketika aku sampai di depan pintu kamar tempat ibu dirawat, tiba-tiba kakaknya ibu yaitu om Johan, dengan kerasnya om Johan menampar pipiku, memarahi, mencaci maki sampai akhirnya berkata “kamu ini anak pertama, bapak kamu sudah meninggal, kamu adalah harapan keluarga satu-satunya fal, lihat ibu kamu sekarang” sambil menunjuk ibu yang terbaring di kasur rumah sakit.
            DEG!!!Astaga, ibu ternyata sudah tidak sadarkan diri, aku menangis sambil tak henti-hentinya meminta maaf pada ibu, berharap ibu bangun dan bisa memaafkanku.
Tiba-tiba sungguh mukjijat luar biasa, ibu terbangun dan kembali sadar, dengan wajah sangat pucat, dengan tubuh yang sangat lemah, ibu berkata “maafkan ibu fal, gara-gara ibu tadi tidak membangunkanmu, kamu jadi kesiangan sampai-sampai tidak sarapan, maafin ibu fal”
Ibu memegang tanganku erat sambil meneteskan air mata. “jadilah anak kebanggaan orang tua yaaa, naufal, edwin, anak ibu, maafkan bapak maafkan ibu yang meninggalkan kalian berdua di dunia ini”.
            Itulah kata terkahir yang di ucapkan ibu, ibu kembali kritis dan belum sempat aku menjawab dan meminta maaf, ibu sudah menutup mata untuk selama-lamanya.
            Penyesalan dalam hidup yang tidak bisa aku lupakan, bahkan aku sendiri tidak bisa memaafkan kebodohan ini, selamanya.
            Maafkan anakmu ini bu…. semoga ibu dan bapak ada di surga bersama, tunggu naufal dan sendi disana ya bu…..
            “robbighfir lii waaliwaa lidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shaghiiraa”
            “ya tuhanku, ampunilah aku dan kedua orangtuaku, dan sayangilah kedua orangtuaku sebagaimana mereka telah menyayangiku sewaktu kecil”
            “berikan aku kesempatan untuk berbakti kepada orangtuaku yang kini telah tidak bersama kami lagi, yang mungkin telah berada di surgamu ya rabb, panjangkan umur saya dan adik saya ya tuhan, agar kami punya banyak waktu untuk berbakti kepada mereka”
           

0 komentar:

Posting Komentar